THE TIME WITH NO NAME, THE SELF WITH NO NAME

Monday, May 08, 2006

Yesterday was dramatic, today is OK, i think ...

Kemarin malam, sepulang dari rumah Pam (setelah sebelumnya saya merasa kecewa karena bertemu dengan seseorang yang kurang menyenangkan, yang memberi saya ciuman paksa dibibir. puah!), saya terpikir untuk mengunjungi ayah tiri saya dirumahnya didaerah Kopo, bandung. Entah kenapa, mungkin saya cuma merasa kangen, atau apalah.
Tapi kekangenan saya tidak bertahan lama. Sebab setibanya saya didepan pintu gerbang rumah ayah saya, saya cuma bisa terbengong-bengong, karena menemukan rumah yang gelap dan kosong. Membingungkan, karena saya tidak pernah mendengar kabar bahwa keluarga ayah tiri saya telah pindah rumah. Sampai kemudian, seorang satpam datang menghampiri saya, dan memberitahu saya bahwa keluarga ayah saya telah pindah ke rumah diseberang jalan.
Singkat cerita, saya lalu mengetahui bahwa rumah itu sudah disita oleh Bank guna melunasi hutang ayah saya yang mencapai 1 milyar (yang sekarang hutangnya TINGGAL tersisa sekitar 90 juta). dan rumah yang mereka tempati sekarang, adalah rumah milik teman dekat ayah saya, yang berbaik hati mau meminjamkan rumahnya untuk ditinggali sementara waktu sampai ayah saya bisa mencari rumah kontrakan.
Menyedihkan, karena ayah saya dan keluarganya sebelumnya adalah orang yang "paling gak bisa hidup sengsara". Berpuluh-puluh tahun mereka biasa hidup serba berlebih, mewah dan dihormati banyak orang. Dan begitu hidup tiba-tiba menawarkan kejutan seperti ini, yang mereka bisa lakukan cuma terpuruk dalam kesedihan, menyesal, menangis dan mengeluh, seolah-olah mereka adalah satu-satunya orang yang menderita. Kalau buat saya, ini bukan hal aneh. Karena hidup saya dari lahirpun sudah seperti ini ;)
Yang menarik, untuk pertama kalinya dalam umur hidup saya yang hampir 21 tahun ini, semalam dia memeluk saya. Maksud saya, benar-benar memeluk saya, dan mengusap-usap kepala saya !! Dan untuk pertama kalinya juga, dia banyak bercerita kepada saya tentang kekecewaan-kekecewaan dia selama ini. tentang beberapa kali dia dipanggil kepengadilan, ancaman penjara, usaha dia untuk menyelundupkan onderdil-onderdil mobil dari china ke indonesia, guna menyambung hidup; yang beberapa kali sempat mendapat masalah di kantor imigrasi dan cerita tentang bagaimana dia tersesat di Hongkong karena terbentur kendala bahasa, lalu sempat menggelandang beberapa hari disana. Ironis, betapa harta bisa merubah perangai seseorang dalam sekajap. Bahkan adik tiri saya, yang sekarang sudah duduk di kelas 1 sekolah dasar, mulai tadi malam benar-benar memanggil saya Kakak, dan ibu tiri saya, yang baru berumur 28 tahun (Ya! cuma beda 7 tahun dengan saya!) mendadak jadi sangat ramah :)
Dan pembicaraan terpanjang kami ini berlanjut hingga pukul 3 dini hari, setelah tiba-tiba dia memberi saya sebotol beer Bintang. Ya teman, saya dan ayah saya minum beer bersama sambil berbagi cerita (minus rokok.karena ayah saya tidak pernah tau saya merokok). Hey, tapi bukankah ini sebuah mukjizat? Hahaha akhirnya saya bisa merasa punya keluarga.
Dan malam yang indah itu berakhir dengan saya tidur dikamar yang sama dengan ayah saya. Huhuhu what a night!

4 Tamparan Penuh Cinta:

Anonymous Anonymous Bilang...

membaca catatan mu selalu membuat ku ingin tau ending nya...

6:53 AM  
Blogger anne Bilang...

wah wah .. itu juga yang pengen saya tau.
hahaha. btw, kamu siapa anonymous ? :)

7:36 AM  
Blogger si rapa Bilang...

Yuk ayuk yuk, kenali caranya berbicara, gaya bahasa yuk ayuk yuk *grin*.

1:59 AM  
Anonymous anonim Bilang...

hah.??? sama ibu tiri cuma beda 8 tahun??? jangan becanda ahh.. berarti bapakmuu... no coment ahhh

10:58 PM  

Post a Comment

<< Home